Fadilah Shalat Dhuha ; Solusi Hidup Berkecukupan



1. Allah memerintah agar kita selalu bertasbih kepada-Nya di kala pagi dan sore, shalat dhuha merupakan sarana untuk kita bertasbih.

“Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi.” (QS. Shaad : 18)

“ Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah…” (QS. An-Nuur : 36-37)

2. Menghidupkan sunnah Rasulullah , suatu keharusan; sebagai wujud kecintaan kepadanya. Bila kecintaan sudah terbukti maka layak masuk surga bersamanya

Dari Anas Bin Malik rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa yang menghidupkan sunnahku, maka dia telah mencintaiku, dan siapa yang
mencintaiku maka ia layak bersamaku di surga.” (HR. Tirmidzi)

3. Dhuha termasuk tiga sunnah yang tidak layak ditinggalkan

Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu , beliau berkata:
"Sahabatku (Rasulullah SAW) menasihatiku akan tiga hal (yang tidak akan pernah
kutinggalkan hingga ku mati) : puasa tiga hari setiap bulan (puasa bhidh), 
dua raka’at shalat dhuha dan agar aku melaksanakan shalat witir sebelum tidur.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

4. Allah akan mencukupi hari-hari kita pagi ngisi absen, sore gajian…  
Dari Nawwas bin Sam’an rodhiyallahu ‘anhu, Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah `Azza Wa Jalla berfirman, "Wahai anak Adam, cukuplah bagi-Ku empat rakaat di awal hari, maka Aku akan mencukupimu di sore harimu."
(HR. Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud dan Nasa’i)

Dari Abi Darda’ dan Abi Dzarr rodhiyallahu ‘anhuma, Dari Allah tabaroka wata’ala,Sesungguhnya Allah tabaroka wata’ala berfirman:
"Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat dari awal hari, 
maka Aku akan mencukupi kebutuhanmu (ganjaran) pada sore harinya."
(Ditakhrij oleh Imam Tirmidzi)

5. Pelengkap Ibadah Wajib; dinamakan wajib karena ada yang sunnah

Dari Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rasulullah SAW bersabda:
“Perintah yang pertama kali diwajibkan kepada ummatku adalah shalat lima waktu, yang pertama kali diangkat dari amal perbuatan mereka adalah shalat lima waktu, dan yang pertama kali dipertanyakan dari amal perbuatan mereka adalah shalat lima waktu. Barangsiapa yang pernah meninggalkan sesuatu daripadanya maka Allah SWT berfirman (kepada malaikat): lihatlah! Apakah kalian mendapatkan dari hamba-Ku shalat-shalat sunnah yang menyempurnakan kekurangannya dari shalat fardhu?
Lihatlah puasa ramadhan hamba-Ku, apabila tertinggal (pernah tidak berpuasa) maka lihatlah apakah hamba-Ku mempunyai pahala puasa sunnah yang akan menyempurnakan kekurangan puasa wajibnya? 
Dan lihatlah zakat hamba-Ku, bila ia sempat tidak mengeluarkannya maka
lihatlah apakah kalian mendapatkan hambaku bersedekah yang akan menyempurnakan kekurangan zakatnya?
Maka diambilah pahala sunnah tersebut untuk melengkapi kekurangan atas kewajiban yang Allah perintahkan, yang demikian terjadi karena rahmat Allah dan keadilan-Nya.
Apabila didapati pahalanya lebih banyak (melengkapi pahala ibadah wajib) dalam
timbangannya, maka dikatakan kepadanya: “masuklah surga dengan senang hati”.
Namun bila tidak didapati satupun pahala sunnahnya, maka Malaikat Zabaniyyah akan diperintah oleh Allah untuk menyeret tangan dan kakinya kemudian dilempar ke neraka.
(HR. Ahmad & Al-Haakim)

Sumber : Kuliahonline Wisata Hati ; Ust. Yusuf  Mansur 



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar